Tampilkan postingan dengan label Broca. Tampilkan semua postingan

Kondisi Ideal

Wah. Sudah lama sekali rasanya tidak menulis di blog ini. Padahal sebagai seorang jurnalis kampus, idealnya blog pribadi rame dengan tulisan-tulisan kan ya? Yah, tapi karena berbagai kesibukan dan rutinitas yang ada, jadi blog mulai terlupakan. (apa sih, padahal aktif juga di media sosial lain kaya instagram, line, bbm -_-). Sulit sekali untuk rutin menulis di blog, mencapai kondisi ideal tersebut sama sulitnya dengan menjaga berat badan ideal. (lho kok! hahaha)

Anyway, FK Unand lagi mengadakan sebuah acara besar nih, Indonesian Medical Olympiad (IMO) 2014. Ajang kompetisi calon dokter se-Indonesia ini untuk pertama kalinya di laksanakan di luar Jawa. Menariknya. IMO tahun ini merupakan IMO terbesar sepanjang sejarah lhoo! WOW! *A*

Jumlah peserta 528 orang dan semua menginap di Hotel Basko. Kece bingits ga tuh? Panitia ternyata udah mempersiapkan ini dari April lalu lho, dan dana yang harus dikumpulkan itu mencapai ratusan juta rupiah, malah kabarnya hampir sampai 1M lho. What?! Walau ada insert peserta, tapi dana yang mesti kudu dikumpulkan tetap masih banyak. (boros banget kata-katanya ya? haha)

Intinya, perjuangan panitia dibantu seluruh elemen kampus, baik BEM, UKM, Pimpinan kampus, dosen-dosen, dan civitas akademika lainnya benar-benar totalitas dalam mengangkatkan acara ini.

Waktunya Kita Berhenti Merawat Luka

Begitulah kutipan dari novel mega best seller Sepatu Dahlan. Penasaran dengan penulis novelnya dan bagaimana beliau mampu menyulap perjalan hidup seseorang menjadi sebuah karya yang menginspirasi banyak orang? Ikuti Seminar Nasional Journalism Week 2014 :)



Journalism Week 2014

Coming Soon on February





More info:





Di Penghujung Tahun

Tidak terasa, ternyata sudah mau memasuki tahun 2014. Terhitung 23 jam dari tulisan ini di-publish maka tahun 2013 akan menjadi memori yang tak akan mampu terulang kembali. So pasti :')

Nah, dengan memasuki tahun 2014 berarti ujian blok semakin dekat. Eeh --" Bukan itu fokus tulisan kali ini. Hal yang ingin sedikit saya ceritakan yaitu tentang akademik dan organisasi (kepanitiaan). Alhamdulillah belakangan saya mulai bisa membagi waktu, walau masih rada-rada out of target. haha. 


Organisasi

Wew. Sudah lama kali rasanya saya tak nulis di sini. Padahal besok tutorial bukannya belajar malah nulis postingan yang ga jelas --" Tak apalah, sesekali.

Share dikit ah soal amanah yang tengah saya emban. Mungkin untuk yang jangka waktunya masih lama aja kali ya? Kepanitiaan ini itu ga perlu tahu lah, cari tahu sendiri bagi yg kepo (emang ada yang mau tau gitu? pasti engga kan, haha)

1. BEM KM FK UNAND - Departemen Eksternal
Lambang Keluarga Mahasiswa (KM) FK Unand. Lambang KID nya menyusul ;)

Maret Segera Berakhir :/ - Ketemu Tere Liye Lagi :)

Journalism Week 2013. Acara dari UKM Jurnalistik KM FK Unand, yakni Broca, tahun ini berhasil menghadirkan novelis yang karya-karyanya tengah ramai dibicarakan oleh khalayak. Novelis yang telah menulis sebanyak 16 karya. Siapa lagi kalau bukan Tere Liye :)


Dulu sewaktu di Insan Cendekia juga sebenarnya sempat bertemu dengan Tere Liye tapi kesan kami (siswa) di mata Tere Liye agak gimana gitu. Acara Bedah Bukunya mulai molor dari yang dijadwalkan, alhasil kami semua diceramahin tentang menghargai waktu -__-" haha :D Maaf Bang Tere. Ga akan terulang lagi yang kaya begitu, semoga :)
Di seminar kali ini, Tere Liye berbagi tips agar bisa menjadi penulis yang baik. Berikut apa yang ada di catatan Doni:

1. Ide atau topik tulisan itu bisa apa saja, tetapi penulis yang baik memiliki sudut pandang spesial.
Mengerti maksudnya? Begini, misalnya ketika mendengar kata 'hitam' kemudian diminta menulis satu atau dua paragraf tentang hitam tersebut. Kebanyakan orang akan membuat cerita tentang sifat dari hitam itu sendiri misalnya hitam kelam, gelap, malam, dsb. Waktu Tere Liye mengadakan pelatihan menulis dulu ada beberapa tulisan yang menarik baginya, salah satunya: Joni temanku berkulit hitam. Semua anggota tubuhnya berwarna hitam. Dari ujung rambut, kepala, gigi, badan, hingga ujung kakinya hitam. Tetapi dibalik semua itu Joni memiliki hati putih bersih :) Yah, kurang lebih begitu lah ceitanya, 

2. Menulis persis seperti orang yang menuangkan teko. Kita dapat mengisi gelas yang kosong tentu dengan teko yang terisi penuh bukan? Kita mengisi teko tersebut dengan banyak-banyak membaca dan melakukan observasi. Untuk membaca mungkin tidak usah dijelaskan lagi. Kalau untuk observasi ini ada sedikit trik. Kita semua pernah naik taksi bukan? Mengantri di kasir perbelanjaan? Kebanyakan orang selama naik taksi lebih memilih untuk tidur di tengah perjalanan. Doni sendiri mengakuinya, kalau dari bandara Soekarno Hatta ke Insan Cendekia atau sebaliknya enakan tidur, dari pada capek di jalan nantinya. 

Tetapi Tere Liye bilang orang yang melakukan observasi bisa melakukannya dengan bertanya ke sopir taksi tersebut pernah gak mengantar artis? Siapa dia? Apa yang dilakukannya selama di atas taksi? Umumnya di Jakarta para supir taksi pernah paling tidak satu atau dua kali mendapat penumpang seorang artis. Waaah, bener juga ya! Jadi bisa tanya-tanya nih besok kalau main ke Jakarta lagi :) Begitu juga dengan mengantri di kasir atau di tempat lainnya, asal kita punya keberanian untuk berobservasi, hal itu akan menambah wawasan kita akan apapun tulisan yang kita bikin nantinya. Jadi penulis yang baik itu selalu penuh akan amunisi di kepalanya.

3. Gaya Bahasa bisa apa saja. Penulis yang baik fokus pada isi tulisannya. Ia tidak pernah pusing dengan teknik dan cara penulisan. Juga tidak pernah bingung bagaimana memulai dan mengakhiri tulisannya sendiri. Kalau memang sudah tidak ada yang mau diceritakan tinggal tuliskan TAMAT di akhir cerita. Itu merupakan hak penulis yang sering dilupakan oleh pembaca. "Kalian pernah tau ending dari 'Hafalan Shalat Delisa'? Siapa yang tau ending sebenarnya? Saya sendiri bukan? atau mungkin bagaimana akhir dari 'Daun Yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin'?" Ya begitulah. Tidak perlu bingung untuk meletakkan ending pada suatu tulisan. Kecuali kalau kita menulis skripsi dan semacamnya :D

4. Tidak ada definisi tulisan bagus atau jelek. Yang ada hanyalah relevan atau tidak relevan. Semua orang mempunyai relevansi masing-masing. Syukur-syukur jika tulisan yang kalian bikin relevan dengan urusan banyak orang.

5. Penulis yang baik berhenti bertanya dan mencemaskan akan tulisannya. Yang dilakukannya yaitu MENULIS! Mulailah menulis! Manusia modern itu menulis: 1000 kata per hari. Dicontohkan oleh Tere Liye tentang SMS, update status fb, berkicau di twitter, dsb. Bukanlah hal sulitkan untuk menulis? :)
Yah, begitulah seminar bersama Tere Liye. Kemudian di sesi berikutnya ada wartawan nasional, seorang news anchor di Reportase Trans TV, Budi Adiputro. Keren lho orangnya, pas Budi baru masuk aja udah pada teriak kya kya cewek-cewek peserta seminar. hahaha :D Bukan orangnya aja yang keren, tapi gaya penyampaian materinya juga oke banget. Materi yang disampaikannya mengenai berita gitulah. Gak sempat Doni nyatat soalnya lagi bertugas dokumentasiin sesinya Budi ini. Ya jadinya yang ada di tangan itu kamera Broca bukan notes yang nyatat materi Tere Liye tadi. Seru seminarnya! Bersyukur jadi bagian dari panitia pelaksananya karena ga bayar insert seperti peserta seminar, hehe :D
Doni lagi bertugas nih :D
Selain seminar dan talkshow, masih banyak acara Journalism Week (JW) 2013 lainnya. Diantaranya ada lomba Fotografi dan Cerpen untuk tingkat SMA dan Mahasiswa. Ini ada karya foto pemenangnya yang doni foto:
keren! iya kan?
Selain itu untuk kalangan kampus sendiri ada juga acara yang mengasah wawasan masyarakat kampus yakni JW Master! Konsep acaranya sama dengan acara rangking 1 di Trans TV, namun di JW Master! ini peserta mewakili angkatannya masing-masing. Pesertanya dari FK 2012, 2011, 2010, dan FKG 2012, 2011. Pemenangnya yaitu o12thopedic, Pendok 2012 (FK) Jago banget dah bang Handyka Milfiadi dan Rayhan Abi Mayzan sebagai orang yang selalu menjawab pertanyaan dengan benar hingga semua kontestan dari angkatan lain gugur :D

suasana JW Master!
Tinggal 2 orang. Rayhan (kiri) bang Handyka (kanan)
Juga ada Broca on the Wall, acara yang memajang hasil karya yang masuk ke Broca dalam rangka Journalism Week ini. Terus ada juga pembagian koran bagi civitas kampus FK Unand. Juga acara Opening, Broca Award, yang disertai perayaan ulang tahun Broca ke 21. Ditutup dengan acara puncak seminar dan talkshow dari Tere Liye dan Budi Adiputro tadi. Untuk persiapan JW sendiri selama tiga bulan lho! Semoga tujuan acaranya, menebarkan semangat membaca dan semangat jurnalis di kampus bisa tercapai. Aamiin. Hidup Pers Mahasiswa! :)
udah selesai :)

Lahirnya Generasi Luar Biasa

Rabu, 12 Desember 2012 merupakan awal dari lahirnya sesuatu yang baru. Sesuatu yang telah lama dinantikan kehadirannya. Sesuatu yang diharapkan memberi perubahan besar bagi segolongan orang. Sesuatu yang dengannya akan rela orang tersebut melakukan apapun demi hal itu. Sesuatu yang dimaksud di sini yaitu sebuah doa, doa yang lahir dari impian banyak orang, yang diwujudkan dalam bentuk sebuah nama. Orthopedic.

Bagi sebagian orang mungkin berarti sebagai ilmu yang berkenaan dengan koreksi deformitas sistem muskuloskeletal, dengan kata lain berkenaan dengan ortopedi. Bagi sebagian yang lainnya mungkin hanyalah istilah kedokteran yang lazim disebut-sebut di rumah sakit. Namun, bagi angkatan pendidikan dokter 2012 Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, kata orthopedic berarti sebuah ikatan. Ikatan yang dapat mempersatukan hati setiap insan demi kesuksesan dalam kebersamaan.

Tepat pukul 12 lebih 12 menit di tanggal 12 bulan 12 tahun 2012, Fakhri Mar-i Fathaniy selaku komandan tertinggi angkatan 2012, memproklamirkan nama angkatannya, orthopedic. Orthopedic sendiri merupakan singkatan dari Organization of the Outstanding  People in Medic yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa kita berarti kumpulan dari orang-orang luar biasa dalam hal medis.

Medis itu sendiri mencakup banyak hal, tidak terbatas pada tindakan operasi dan pengobatan saja. Akan tetapi juga dimulai dari hal yang paling mendasar, yakni kemampuan berkomunikasi dan berempati. Hal tersebut sering kali terlupakan oleh para tenaga medis kita dewasa ini. Oleh karena itu, dengan lahirnya sebuah nama baru di KM FK Unand kita ini, semoga semakin jayalah nama universitas kita, Universitas Andalas, terkhusus Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. (danpa)

*tugas 2 BBMK Broca, materi layout. Ditugaskan bikin Headline News dengan tiga berita didalamnya: World's Aids Day, BBMK, dan kabar terbaru saat ini. Berita ini masuk ke kategori berita terbaru (up to date)

Bersyukur Meninggal

“Aaah.. akhirnya  kelar juga nih tutorial” desahku seiring melangkah keluar dari gedung ABCD. Tutorial pertama di blok kardiorespirasi ini benar-benar membuatku capek. Pasalnya banyak sekali hal yang tidak ku mengerti di skenario tadi. Untunglah sistem belajarnya menggunakan seven jumps membuat ku bisa memahami materi minggu ini sedikit demi sedikit.
“Eh Ber, Lu tahu jadwal kita selanjutnya ga?” tanya Ramos, ketua kelompokku dengan nada sedikit menggoda.
“Engga, emang apaan Ram?” jawabku penuh rasa penasaran.
“Kita itu bakal praktikum lho Ber, praktikum anatomi!” balas Ramos dengan semangat.
“Ha? Anatomi?! Ciyus Lu Ram? Ngeliyat mayat dong? Ih Ogah ah!” timpalku ketakutan.
“Ga usah takut Berri, kan Gue selalu setia menemani Lu terus. hehehe”
Iya sih, benar juga apa kata Ramos, tapi bukan karena ada dianya lho ya! Poin yang ga usah takutnya yang ditekankan. Soalnya mau ga mau pelajaranku selanjutnya bakal sering ketemu ama ‘sesuatu’ ini. Berarti aku harus menghilangkan rasa takut ini sedini mungkin.
Kemudian, kami segera memasuki laboratoruim anatomi di mana telah ramai dipenuhi oleh teman-teman yang segrup denganku. Sebelum  memulai praktikum, kita semua menonton video pengarahan terkait materi praktikum yang akan dilakukan.
“Ngantuk nih nonton beginian terus. Kapan mulainya nih? Udah kaga jelas lagi apa yang diomongin dan yang ditunjukin ama model di video ini. Mending keliling-keliling dulu ah” pikir ku sambil keluar dari kerumunan. Tepat saat ku berhasil melangkah keluar, langsunglah mataku tertuju pada seonggok daging yang ternyata setelah ku perhatikan adalah tubuh manusia, lelaki tua tanpa sehelai benangpun menutupinya. Seketika itu dadaku berdebar kencang, keringat dingin mulai mengucur membasahi pakaianku. Ku tatap mata tanpa makna milik seorang kakek yang tak bernyawa. “Apakah nanti semua orang akan seperti ini? Tentu pastinya. Namun, dalam keadaan bagaimana kita akan mati tak ada seorangpun yang tahu” bisik hatiku.
“Hoi Ber! Apa yang Lu liat dari tadi?” ucap Ramos yang sontak membangunkan ku dari lamunan.
“Mau tau aja sih Lu!” jawabku ketus
“Biasa aja dong Ber, ga usah marah gitu juga kali. Ntar cepat tua lho!”
“Biarin, emang Gue pikirin!”
Yah, walau mulutku berkata demikian sepanjang perjalanan pulang hatiku terus memikirkan kejadian di laboratorium anatomi tadi siang. Ada sesuatu yang mengganjal benakku, perihal kematian. Aku belum siap untuk menghadapinya. Masih banyak hal-hal yang ingin ku perbaiki dari diriku. Aku harus berubah menuju pribadi yang menebar manfaat sepanjang waktu. Walau begitu, tak semudah mulut berkata, ujian dan cobaan selalu datang silih berganti. Hal terpenting yang dapat ku lakukan sekarang yaitu bersyukur sepenuh hati. Bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk hidup, memperbaiki dan mendewasakan diri dengan berbagai masalah yang ada.
Lain halnya dengan orang yang telah meninggal. Mereka akan bersyukur jika menggunakan waktu di dunia dengan sebaik mungkin. Mengerjakan segala kebaikan pastinya. Jika tidak, mereka tak akan pernah bersyukur, malahan yang akan ada yaitu penyesalan. Penyesalan selalu datang di akhir.


*cerpen ini ditulis dalam rangka tugas 1 dari Bina Bakat Minat dan Kepemimpinan (BBMK) di Broca, UKM jurnalistik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Materi dalam BBMK waktu itu yaitu Teknik Wawancara. Peserta disuruh mewawancarai senior dengan nomor BP yang sama empat angka dari belakang tentang pengalaman paling berkesannya. Kebetulan Kakak BP doni cerita kalo pengalamannya yaitu masuk lab anatomi. Thanks kakak BP. BP kita emang unik, 2121.